1657408484514812
Loading...

Sadis! Tolak Penambangan di Lumajang, Salim Kancil Disetrum, Digergaji, Dipukul Hingga Tewas oleh Preman


Seharian ini media nasional tak henti-henti memberitakan tentang Salim Kancil. Dia mendapat siksaan sadis dari para preman seperti disetrum, dipukul dan digergaji hingga akhirnya Salim Kancil meregang nyawa.

Salim Kancil adalah seorang petani dan aktivis Petani Antitambang yang menolak keras eksploitasi tambang di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Sebelum meregang nyawa, Salim dikabarkan akan melakukan aksi penolakan penambangan pasir di area pertanian. Tetapi, sebelum aksi penolakan digelar, Sabtu (26/9) itu, Salim keburu 'diculik' orang tak dikenal dan disiksa hingga meninggal dunia.

Awalnya, Salim bersama Tosan, dua warga yang menolak penambangan. Salim disiksa hingga tewas, sementara Tosan berhasil diselamatkan warga lainnya.

Kronologi Pembunuhan Salim oleh Preman

Dalam rilis tertulis tim advokasi yang terdiri dari Laskar Hijau, Walhi Jawa Timur, Kontras Surbaya, dan LBH Disabilitas disebutkan, sebelum tewas dipukul dengan batu dan balok kayu, Salim (46) atau akrab dipanggil Kancil, sempat disetrum dan digergaji. Tim advokasi menyampaikan, saat 40-an preman datang menyerbu rumahnya, Sabtu (26/9), Salim sedang menggendong cucunya yang berusia 5 tahun.

"Mengetahui ada yang datang berbondong dan menunjukkan gelagat tidak baik Salim membawa cucunya masuk. Gerombolan tersebut langsung menangkap Salim dan mengikat dia dengan tali yang sudah disiapkan," tulis tim advokasi dalam rilisnya seperti yang diberitakan Republika.co.id, Senin (28/9).

Tim advokasi melanjutkan, para preman kemudian menyeret Salim dan membawa dia menuju Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju Balai Desa, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa, disaksikan warga yang ketakutan dengan aksi ini.

"Di Balai Desa, tanpa mengindahkan bahwa masih ada banyak anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran di PAUD, gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya," tulis tim advokasi.

Tim advokasi melanjutkan, di Balai desa, gerombolan ini sudah menyiapkan alat setrum yang kemudian dipakai untuk menyetrum Salim berkali-kali. Tak berhenti sampai di situ, mereka juga membawa gergaji dan dipakai untuk menggorok leher Salim. Namun, upaya mereka seolah tidak melemahkan Salim.

Melihat kenyataan Salim masih sehat, tulis tim advokasi dalam rilisnya, dalam keadaan balai desa yang masih ramai, gerombolan tersebut kemudian membawa Salim yang masih dalam keadaan terikat melewati jalan kampung menuju arah makam yang lebih sepi.

"Di tempat ini mereka kemudian mencoba lagi menyerang salim dengan berbagai senjata yang mereka bawa. Baru setelah gerombolan ini memakai batu untuk memukul, Salim ambruk ke tanah," tulis tim advokasi.

Mendapati itu, menurut keterangan tim advokasi, mereka kemudian memukulkan batu berkali-kali ke kepala Salim. Di tempat inilah kemudian Salim meninggal dengan posisi tertelungkup dengan kayu dan batu berserakan di sekitarnya.

Sebelum membantai Salim, para preman juga menyerang rumah Tosan, warga penolak tambang lainnya. Menurut keterangan tim advokasi, Tosan didatangi segerombolan orang menggunakan kendaraan bermotor sekitar pukul 07.30.

"Mereka membawa pentungan kayu, pacul, celurit, dan batu. Tanpa banyak bicara mereka lalu menghajar Tosan di rumahnya, Tosan berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan sepeda namun segera bisa dikejar oleh gerombolan ini," tulis tim advokasi.

Tim advokasi menyampaikan, Tosan lalu ditabrak dengan motor di lapangan tak jauh dari rumahnya. Tak berhenti di situ, gerombolan ini kembali mengeroyok Tosan dengan berbagai senjata yang mereka bawa sebelumnya.

"Tosan bahkan ditelentangkan di tengah lapangan dan dilindas motor berkali-kali. Gerombolan ini menghentikan aksinya dan pergi meninggalkan Tosan setelah satu orang warga bernama Ridwan datang dan melerai," tulis tim advokasi.

Salah satu anggota tim advokasi A'ak Abdullah melaporkan, saat ini, kampung tempat kejadian masih mencekam. "Warga dan keluarga korban masih dalam suasan duka dan rawan terpancing untuk membalas dendam," ujar Aak dihubungi melalui saluran telepon, Senin (28/9).





Hukum dan Kriminal 4564367131911010006

Posting Komentar

Beranda item

Terkini

Follow by Email