1657408484514812
Loading...

Bagaimana Kerja Otak Koruptor Menurut Dokter Spesialis Saraf?


Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Prof Moh Hasan Machfoed mengatakan, korupsi yang dilakukan beberapa pejabat di Indonesia terjadi karena otak mereka tidak sehat.


“Otak koruptor itu normal, tapi tidak sehat,” kata Hasan kepada Tempo usai senam saraf massal di Pantai Losari Makassar, Minggu (9/8).

Menurut Hasan, secara fisik otak koruptor dengan otak orang yang tidak korupsi sama. Tidak ada yang berbeda secara struktural. Bahkan para koruptor sangat cerdas dan memiliki banyak ilmu pengetahuan.

Perbedaannya, kata Hasan, terletak dari segi fungsional dan mekanisme kerja otak. Koruptor tidak bisa menjalankan pengetahuan yang mereka miliki. “Untuk melihatnya, bisa lewat dampak yang dilakukan oleh pemilik otak,” katanya.          
Hasan mengatakan, otak para koruptor kotor. Sebab, mereka sudah tidak memiliki hati nurani, tidak ada kepekaan sosial, dan tidak bisa menjalankan apa yang seharusnya baik dijalankan.

Yang mereka lakukan sudah tidak sesuai antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi. “Sudah korupsi tapi masih senyum senyum saja,” kata Hasan.

Hasan menjelaskan, dalam ilmu kedokteran, bagian otak yang mengatur perilaku, budi pekerti, keikhlasan untuk berkorban bagi orang lain disebut limbik sistem. Limbik sistem juga membantu manusia berpikir secara abstraktif dan membantu membuat perencanaan.

Untuk menjaga limbik sistem tetap sehat, kata Hasan, harus ada pendidikan yang baik, lingkungan yang baik, dan faktor keluarga. “Sehat itu ada tiga. Sehat secara fisik, sosial, dan spritual,” kata Hasan. (tempo.co)





Kasus Korupsi 586196526485402454

Posting Komentar

Beranda item

Terkini

Follow by Email