1657408484514812
Loading...

Jokowi Bolak Balik Blusukan ke Hutan Terbakar Tinjau Kabut Asap, Apa Hasilnya?


Sudah lebih dari dua bulan kabut asap menyelimuti wilayah Riau dan Kalimantan. Berbagai upaya termasuk mengerahkan tentara dan polisi untuk memadamkan kebakaran lahan telah dilakukan. Namun asap masih pekat dan terus memakan korban jiwa. Peran pemerintah pun dipertanyakan, termasuk Presiden Jokowi yang sudah berapa kali bolak-balik meninjau lokasi kebakaran lahan.


Kamis (8/10) kemarin, pesawat Kepresidenan yang membawa Presiden Jokowi dan rombongan gagal mendarat di Bandara Sultan Thaha, Jambi. Sebabnya karena jarak pandang (visibility) di bandara itu hanya di bawah seribu meter. Akibatnya, kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke Jambi batal, dan pesawat diputuskan mendarat di Bandara Minangkabau, Padang.

Kepala Bagian Media dan Analisa Berita pada Sekretariat Presiden, Yudhi Wijayanto, saat jumpa pers di room VIP Bandara Jambi, mengatakan, Presiden Jokowi rencananya memang akan melawat ke Jambi. Namun karena jarak pandang terbatas, maka diputuskan pesawat Presiden mendarat di Padang.

Yudhi mengatakan, setibanya di Bandara Padang, Presiden Jokowi diagendakan kembali ke Jambi menggunakan helikopter. Namun lagi-lagi karena kabut asap masih tebal, Presiden Jokowi memutuskan membatalkan kunjungan ke Jambi dan melanjutkan kegiatan di Padang.

"Jika cuaca dan kondisi kabut asap di Jambi mulai membaik dalam dua hingga tiga hari ke depan, Presiden akan melanjutkan kunjungan kerjanya dari Sumbar ke Jambi. Kemungkinan hari Sabtu, tapi belum bisa kita pastikan," ucap Yudhi.

Terkait opsi kedatangan Presiden ke Jambi melalui jalur darat, Yudhi juga belum bisa memberikan keterangan secara pasti. Namun menurutnya, opsi perjalanan darat bisa saja dilakukan, karena Presiden Jokowi sangat ingin melihat kondisi kabut asap dari kebakaran lahan dan hutan, dan pembuatan kanal penahan api di lahan-lahan perkebunan, serta melihat langsung masyarakat yang terdampak kabut asap.

Jokowi pun sudah tiga kali dijadwalkan mengunjungi Jambi.
Namun semua rencana itu batal karena pesawat kepresidenan tidak bisa mendarat di Bandara Jambi, lantaran jarak pandang terbatas akibat tebalnya kabut asap.                                                                  
Sebelumnya, Jokowi sudah mengunjungi wilayah Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan pada awal September lalu. Jokowi memantau langsung proses pemadaman bersama Panglima TNI dan Kapolri. Saat itu, Jokowi meminta dibuatkan kanal-kanal air untuk mencegah api meluas dan terlokalisir.

Pada Akhir September, Jokowi bersama Kepala BNPB William Rampangilei juga meninjau kebakaran hutan di wilayah Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah. Jokowi juga meminta pencegahan kebakaran dengan membangun sekat kanal air.

Banyak yang berharap kedatangan Jokowi ke lokasi kebakaran membuat penanganan kebakaran hutan menjadi lebih cepat. Saat itu Jokowi mengultimatum dua pekan setelah dia datang, kebakaran hutan bisa teratasi dan kabut asap berkurang.

Namun tenggat waktu itu kini terlewati, bahkan di wilayah Riau dan Palembang, kabut asap makin pekat dan memakan korban bayi Husen Saputra.

Apa hasil yang sudah dicapai dari blusukan Jokowi ke lokasi kebakaran? Sejauh ini belum ada, tentu saja dengan ukuran masih tebalnya kabut asap yang terjadi.

Pemerintah yang awalnya ngotot menolak bantuan asing, kini mulai luluh setelah merasa tidak mampu menangani kebakaran hutan. Padahal, sejak jauh-jauh hari, Malaysia dan Singapura, dua negara yang terdampak kabut asap sudah menawarkan bantuan.

Selain itu, Indonesia juga berharap bantuan dari Australia, China, dan Rusia. Pemerintah mengakui membutuhkan pesawat yang bisa mengebom titik api dengan kemampuan besar. Pesawat inilah yang tidak dimiliki dan berharap bantuan asing.

Kini kita tinggal menunggu sampai kapan pemerintah bertindak cepat mengatasi kabut asap agar tidak semakin banyak timbul korban-korban lagi. (merdeka.com)





Kabut Asap 7085382777153111460

Posting Komentar

Beranda item

Terkini

Follow by Email