1657408484514812
Loading...

Kisah Jual Beli Batu Akik Bacan Jamaah Haji di Bandara King Abdul Aziz Jeddah


Selalu ada cerita unik dan menarik dari jemaah haji Indonesia yang pergi menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Kali ini terjadi di Bandara Internasional King Abdul Aziz (KAAIA) dan melibatkan cincin batu bacan.


Cerita ini bermulai dari adanya kerumunan ketika jemaah haji kloter 9 embarkasi Makassar mulai antre masuk gerbang imigrasi bandara. Awalnya kerumunan itu diduga ada protes dari jemaah sebab di dalamnya juga terlihat ada petugas dari Panitia Penyelenggara Ibadah haji (PPIH) Daker Bandara.

"Awalnya dikira terjadi kericuhan. Ternyata hampir sebagian besar jemaah haji yang berasal dari Halmahera Utara - Maluku Utara itu memamerkan batu akik jenis bacan kepada petugas Garuda Indonesia dan petugas Sektor 2 Daker Airport," demikian penjelasan Kadaker Bandara Airport Jeddah – Madinah Nurul Badruttamam, Jumat (09/10/2015).

Wakasektor II Daker Airport Rijal Kani yang ikut berkerumun mengatakan dirinya sangat tertarik pada cincin batu di jari jemaah bernama Slamet Riyadi yang berasal dari Halmahera Utara. Dia pun berminat memilikinya dan berharap Slamet mau menjualnya.

"Kita pun tertarik. Tapi awalnya Slamet Riyadi tidak mau menjual batunya. Setelah ngobrol lama, akhirnya dia berkenan untuk melepas, tapi tidak bisa menetapkan berapa harganya," terang Rijal Kani.                                                                                    
Setelah bernegosiasi, Slamet Riyadi legowo menukar cincin bacannya dengan uang 500 riyal atau sekitar Rp 1,9 juta (kurs 1 riyal = Rp 3.800). Slamet melepas cincinya jauh di bawah harga pasaran Rp 5 juta karena merasa terbantu dengan petugas haji.

"Alhamdulillah batu itu saya yang beli," kata Rijal Kani.

Tidak cukup membeli milik slamet, Rijal juga membeli cincin bacan milik jemaah haji Basuki Rahmat. Petugas dari Garuda Indonesa yang tidak mau disebutkan namanya juga ikut membeli. batu akik jenis bacan doko ini dengan harga 500 - 800 riyal.

Batu Bacan merupakan kekayaan alam Maluku Utara yang sudah dikenal sejak tahun 1960-an. Istilah bacan diambil dari nama tempat perdagangan batu tersebut. Sedangkan penghasil batu tersebut adalah Pulau Kasiruta. Pulau ini berada tidak jauh dari Pulau Bacan di Kabupaten Halmahera Selatan. Sedangkan Pulau Bacan merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Halmahera Selatan. (detik.com)






Batu Akik 6214552745940355464

Posting Komentar

Beranda item

Terkini

Follow by Email