1657408484514812
Loading...

Mengenal Organisasi Terlarang "Gafatar", Pendukung Program Revolusi Mental Jokowi


Ditemukannya dokter Rica Tri Handayani oleh Polisi, perhatian masyarakat pun tertuju pada organisai terlarang yang diikuti  dan oleh beberapa pegawai negeri sipil (PNS) yang telah dinyatakan hilang di beberapa daerah.

Organisasi bernama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) bukanlah sebuah organisasi yang baru berdiri. Pendeklarasiannya dilakukan pada 21 Januari 2012 di gedung JIEXPO Kemayoran, Jakarta. Organisasi ini diketuai oleh Mahful M. Tumanurung. Namun tak lama dideklarasikan ternyata pemerintah Indonesia telah mencium adanya sesuatu yang salah dari organisasi ini. Sepuluh bulan kemudian, pemerintah melarang keberadaan organisasi ini.

Demonstran beraksi di sidang penganut aliran sesat Gafatar, Selasa (7/4/2015) di Pengadilan Negeri Banda Aceh. foto atcehdaily.com
Dilansir gafatar.org, organisasi Gafatar berdiri di beberapa daerah. Tokoh-tokoh Gafatar seperti Mahful Tumanurung (Ketua Umum), Wahyu Sanjaya (Wakil Ketua Umum), Berny Satria (Sekretaris Jenderal), M. Hadi Suparyono, Andry Cahya, dan Muchtar Asni.

Pidato Mahful saat deklarasi Gafatar mengulas soal ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, persamaan hak, kerakyatan, keadilan, kebudayaan, dan nilai-nail luhur budi pekerti yang terkandung dalam budaya nusantara maupun Pancasila.

Deklarasi dikumandangkan oleh 52 orang pendiri. Acara ditutup dengan pemukulan 1.150 kentongan secara bersama-sama sebagai simbol dan tanda bahwa semua orang harus bangun dan tersadar dari tidur.

Pada 20 November 2012 Direktorat Jenderal Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri Nomor 220/3657/D/III/2012 melarang pendirian Gafatar. Namun hingga April 2015, organisasi ini masih melaksanakan berbagai kegiatan.

Saat Rakernas III Gafatar di Gedung Balai Sudirman, Jakarta, Mahful mengatakan, Gafatar mendukung program revolusi mental yang digagas Presiden Joko Widodo.

Mahful menyatakan,
Sejak awal berdiri pada tahun 2011, Gafatar mengajak semua pihak untuk melakukan gerakan revolusi mental spiritual yang dibentuk oleh ruh suci dari Tuhan Yang Maha Suci. Sehingga akan melahirkan manusia-manusia baru dengan akhlak yang baru.

Mahful memaparkan, Gafatar ingin menjadi komunitas pohon yang unggul, yakni kumpulan manusia yang berkarakter Tuhan Yang Maha Esa, generasi bangsa yang siap bekerja tanpa pamrih, sanggup berkorban harta dan diri dalam menghidupkan dan membangun jiwa dan raga bangsa menuju Indonesia Raya, Nusantara Jaya.                                              
Dalam kesempatan itu ia juga menegaskan, Gafatar tidak akan berevolusi menjadi organisasi keagamaan atau politik.

Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Sudarmo mengatakan, Gafatar sebelumnya bernama Milah Abraham. Organisasi ini juga sempat berganti nama menjadi Negara Karunia Tuhan Semesta Alam (NKSA).

Sudarmo membenarkan tokoh Gafatar, Mahful Tumanurung. "Dulu namanya Milah Abraham, sempat ganti menjadi NKSA, kemudian ganti lagi menjadi Gafatar," kata Sudarmo kepada Metrotvnews.com, Senin (11/1/2016).

Milah Abraham dicap sebagai komunitas ajaran sesat karena mencampuradukkan ajaran Islam, Nasrani, dan Yahudi. Kelompok ini sempat marak di Depok, Jawa Barat, pada 2010. Tokoh Milah Abraham adalah Ahmad Musadeq.

Komunitas Milah Abraham mewajibkan anggotanya untuk bersumpah setia (baiat). Para calon pengikut harus disumpah di hadapan para pengurus Komunitas Milah Abraham.

Polda Yogyakarta menemukan dokter Rica Tri Handayani bersama putranya berumur enam bulan. Selain itu, polisi juga menemukan empat orang yakni E, F, Eko, dan Veni. Eko dan Veni merupakan saudara Rica yang menjemput di Yogyakarta.

Kepala Polda Yogyakarta Brigjen Pol Erwin Triwanto mengatakan mereka ditemukan sekitar pukul 06.00 WITA di Bandara Kota Waringin Barat, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Mereka diduga akan bergabung dengan Gafatar.

Sanggar Yamin dan anaknya Ahmad Kevin, warga Yogyakarta, juga tak diketahui keberadaannya sejak pergi ke Bima, NTB, pada 26 November 2015. Nenek Kevin, Maria Restubun mengatakan Sanggar merupakan pengurus di Gafatar.

Maria mengaku menemukan hal ganjil sebelum ayah-anak itu izin pergi. Menurutnya, kedua orang itu menjadi jarang bergaul dengan tetangga. Mereka kerap bepergian tanpa izin.

"Kevin dulu rajin ibadah di masjid dan tidak pernah meninggalkan salat. Tapi sebelum pergi, anak itu jadi jarang salat," kata Maria di kediamannya di Jetis, RT 1 RW 1, Sinduadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu 10 Januari.






Gafatar 8222146690121841584

Posting Komentar

Beranda item

Terkini

Follow by Email