1657408484514812
Loading...

UMP Kecil Tapi Biaya Hidup Murah, Yogyakarta Tetap Istimewa


Meski menyandang predikat salah satu kota besar, namun Yogyakarta juga terbilang salah satu tempat memiliki taraf hidup murah dibanding kota-kota besar lain. Oleh karenanya, UMP kota Yogja juga terbilang kecil dibanding kota lain di Indonesia.


Tolak ukur murahnya biaya hidup di Yogyakarta memang bisa dilihat dari harga makanan. Cukup Rp 8 ribu, pelancong maupun warga lokal bisa makan sampai kenyang. Itu pun sudah ditambah minum es teh manis. Satu bungkus nasi kucing kebanyakan di jual Rp 1500, per bungkus. Segelas teh manis harganya cuma Rp 2500.

Murahnya biaya hidup di Yogyakarta memang bukan tanpa alasan. Menurut Aktivis Jogja Asat, Dodo Putra Bangsa, murahnya harga makanan termasuk biaya hidup itu karena Yogyakarta bukan merupakan kota industri. Hampir semua lini perekonomian digerakkan dari sektor pariwisata.

Dia menambahkan, meski Upah Minimum Regional ditetapkan sejuta lebih, namun rupanya banyak juga pegawai toko di pusat perbelanjaan mendapatkan upah jauh dari UMR. Mereka menerima digaji Rp 700 ribu.

Sebagai contoh, Dodo menyebutkan, banyak pegawai toko tinggal di wilayah Sleman atau Gunung Kidul merantau ke Kota Yogyakarta. Mereka tinggal di kos kecil di bantaran Kali Code yang perbulannya tak sampai Rp 100 ribu. "Pekerja-pekerja toko gajinya paling Rp 600 sampai Rp 700 ribu, tetapi karena di Yogya yang serba murah meriah mereka bisa hidup. Ya hidupnya pun begitu, kembang kempis karena gaji yang tidak seberapa," ujarnya.                                              
Faktor lain yang membuat pekerja bertahan adalah sikap menerima (nrimo). Hal ini membuat buruh-buruh di Yogya cenderung tidak menuntut lebih banyak seperti di kota-kota lain atau Jakarta. "UMR di Jakarta yang Rp 3 juta lebih saja buruh masih sering demo, di sini relatif jarang demo," ujar Sigit, peneliti kemasyarakatan di Yogyakarta.

Faktor lain membuat orang Jogja menerima adalah sebagian besar warga masih menganut aliran Sabdo Pandhito Ratu (Mengikuti sabda raja). Faktor ini kemudian membuat sikap menerima begitu melekat kuat pada prinsip-prinsip hidup orang Yogya. Apalagi kepercayaan sikap menerima juga memang menjadi ciri khas orang-orang dari tahan Jawa.

Upah murah juga bisa dilihat dari para penjaga motel atau hotel kelas melati di kawasan Malioboro dengan gaji Rp 700 ribu, beberapa anak muda mau menjadi pegawai hotel. Alasan mereka melakoni pekerjaan itu ialah untuk mencari kesibukan. Andri misalnya, lelaki berusia 18 tahun ini sudah dua tahun menjadi penjaga motel di Jalan Dagen, Malioboro. Setiap pagi dia memesan nasi kucing dua bungkus dan dua gorengan untuk sarapan. Tak sampai lima ribu sudah cukup untuk mengisi perut.

Itulah salah satu keistimewaan kota Yogyakarta. Gimana menurut kamu?

(merdeka.com)





Budaya Nusantara 4009375699038760277

Poskan Komentar

Beranda item

Terkini

Follow by Email